Secangkir Kopi

Teman minum yang sangat nikmat yang dapat dihasilkan dari biji kopi dari perkebunan

Chocolate Cake

Buah ceri merah hasil dari kebun mempercantik cake

Pancake

Strawberry manis dari kebun.

Olahan Kentang

Hasil hasil dari pertanian diolah menjadi makanan yang menggugah selera

Secangkir Teh

Teman setia untuk menentramkan jiwa

Showing posts with label BUAH. Show all posts
Showing posts with label BUAH. Show all posts

2013-03-09

TEKNIK DAN CARA PEMBUATAN EMPING MELINJO

Emping melinjo adalah jenis makanan ringan yang bentuknya pipih bulat, bahan bakunya berasal dari biji melinjo yang sudah tua. Hampir semua orang sudah mengenal apa yang namanya emping melinjo, dan jenis makanan ini memiliki rasa dan aroma yang khas. Emping melinjo memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, selain karbohidrat juga mengandung lemak, protein, mineral dan vitamin dari 100 gram emping melinjo mengandung: Kalori : 345,00 kalori, Karbohidrat ;71,50 mg. Protein : 120,00 mg, Lemak : 1,oo mg, Kalsium : 100,00 mg, Fospor: 400,00 mg, Besi : 5,00 mg Vitamin B: 0,20 ( Anonim,95) Emping melinjo yang dijual dipasaran ada bermacam-macam ukurannya yaitu kecil, sedang dan besar. Emping ukuran kecil dikenal dengan nama ceprek, emping ini dibuat dari satu biji melinjo untuk satu buah emping. Emping ukuran sedang dibuat dari beberapa biji melinjo yang dipipihkan dan disatukan, sedangkan untuk emping ukuran besar biasanya dibuat dari biji melinjo sebanyak 15- 20 biji melinjo yang dipipihkan dan disatukan . Proses pembuatan emping melinjo adalah sebagai berikut A.Bahan dan Alat: Bahan dan Alat yang digunakan untuk membuat emping melinjo sangat sederhana, biasanya mudah diperoleh dan harganya pun relative murah sehingga dapat terjangkau dikalangan petani. Alat-lat tersebut meliputi: 1. Batu landasan yang permukaannya rata dan licin sebagai tempat untuk memipihkan biji melinjo. 2. Palu besi untuk memipihkan biji melinjo 3. Wajan untuk menyangrai biji melinjo 4. Kompor pemanas atau tungku api 5. Susuk untuk mengambil emping melinjo yang telah dipipihkan 6. Irus untuk mengambil biji melinjo yang sedang disangrai dari wajan 7. Anyaman bambu atau rigen untuk menjemur emping melinjo yang masih basah 8. Biji melinjo yang sudah tua dan kualitasnya baik. B. Pemilihan bahan baku Agar diperoleh emping yang berkualitas baik, maka bahan baku yang dipilih harus berkualitas baik pula. Bahan baku yang berkualitas adalah yang berasal dari biji melinjo yang sudah tua dan tidak lebih dari 3 bulan dalam peyimpanan. C. Cara membuat emping melinjo Prinsip dasar pembuatan emping melinjo adalah pengupasan kulit buah, pemanasan biji, pengupasan kulit biji, pemukulan dan pemipihan biji, pelepasan emping dari batu pemipih penjemuran dan sortasi. 1. Pengupasan kulit buah. Biji melinjo yang sudah tua dikupas kulit luarnya dengan pisau. Kulit melinjo dikerat memanjang kemudian dilepas. kulit ini bisa dijadikan sebagai sayuran. 2. Pemanasan Biji melinjo Ada tiga cara pemanasan biji melinjo dalam pembuatan emping  Dengan cara disangrai tanpa pasir, pertama wajan dipanaskan diatas kompor atau pemanas lainnya. Usahakan nyala api jangan terlalu besar dan selalu konstan, kemudian biji melinjo dimasukkan sedikit demi sedikit kira-kira satu genggaman tangan, lalu diaduk-aduk dengan irus agar panasnya merata dalam pemanasan ini jangan sampai hangus.  Dengan cara disangrai dengan pasir. Wajan yang telah diisi dengan pasir dipanaskan diatas pemanas hingga panas pasirnya merata. Pasir yang digunakan adalah pasir bangunan yang telah dicuci bersih sebelumnya. Jika pasir telah panas, biji melinjo dimasukkan dan diaduk-aduk bersama pasir hingga panasnya merata  Dengan cara direbus. Biji melinjo direbus dalam panci yang berisi air mendidih. Dalam hal ini yang harus diperhatikan pada tahap pemanasan biji adalah lamanya pemanasan, meskipun tidak ada patokan resmi sebaiknya pemanasan serat melinjo itu cukup matang, bila terlalu matang akan menghasilkan emping melinjo yang rasanya kurang enak dan warnanya pucat sehingga kurang menarik. 3. Pengupasan kulit biji. Biji melinjo yang telah dipanaskan segera dikupas kulit tanduknya dalam keadaan masih panas, biji melinjo dipukul agar kulit tanduknya yang keras dapat terlepas . 4. Pemukulan dan pemipihan biji Setelah kulit keras biji melinjo dikupas, biji melinjo segera diletakkan diatas bantalan batu dalam keadaan masih panas/ hangat. Biji melinjo dipukul pukul dengan palu dan dipipihkan hingga rata. Hal ini merupakan prinsip pembuatan emping melinjo. Apabila ingin membuat emping dengan ukuran yang lebih besar, maka pemukulan biji melinjo berikutnya diusahakan agar berdekatan dengan biji pertama. Demikian seterusnya sambil dibentuk bundar, sehingga jadilah emping yang ukurannya lebih besar. Prinsip pembuatan emping dari biji yang direbus pada dasarnya sama saja dengan emping dari biji yang disangrai. Untuk menjaga agar tetap panas sebelum dipukul, sebaliknya biji melinjo yang sudah direbus itu dikukus terlebih dahulu. 5. Pelepasan emping dari batu landasan Emping yang telah berbentuk bundar dan rata dilepaskan dari batu landasan dengan menggunakan susuk. Pelepasan ini dilakuakan dengan hati-hati agsupaya emping tidak sobek atau rusak. Ada cara untuk memudahkan pelepasan emping dari batu landasan yaitu dengan mengoleskan sedikit minyak goreng dibatu landasan, sebelum biji melinjo diletakkan diatasnya. Meskipun cara ini banyak digunakan oleh pengrajin melinjo, namun sebenarnya mengandung resiko. Pengolesan minyak ini akan mempercepat tumbuhnya jamur sehingga daya simpan emping mejadi kurang. 6. Penjemuran emping melinjo Emping yang sudah dipipihkan masih dalam keadaan basah. Untuk mengeringkan emping ini disusun dan ditata rapih diatas rigen kemudian dijemur, penjemuran dilakukan hingga emping kering betul agar tahan lama disimpan. 7. Sortasi Emping Setelah kering, emping melinjo kemudian dikumpulkan dan disotasi. Pemilihan ini hanya untuk membedakan kelas atau kualitas dari emping melinjo. 8. Pengemasan dan penyimpanan Emping melinjo yang telah kering dapat dikemas dan siap untuk dipasarkan. Kemasan yang digunakan adalah dengan menggunakan kantong plastic yang diikat erat-erat. Penyimpanan emping sebaiknya ditempat yang sejuk dan kering penyimpanan diupayakan jangan sampai lebih dari tiga bulan. Demikian Teknik dan cara Pembuatan emping melinjo semoga dapat bermanfaat bagi masyarakat yang memerlukannya.(mnr)

CARA MEMBUAT SIRUP ASAM JAWA SEBAGAI MINUMAN PENYEGAR

Sirup asam jawa adalah merupakan produk olahan dari pasca panen hasil tanaman hortikultura khususnya tanaman asam yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah, sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan tingkat kesejahteraan petani. Sirup asam jawa merupakan salah satu proses diversifikasi bertingkat dari komoditas hortikultura khususnya tanaman asam. Selain dapat digunakan sebagai bumbu masak khususnya sayur asam, asam ini dapat pula dijadikan sebagai bahan pembuat jamu tradisonal maupun dijadikan bentuk produk lainnya Beberapa manfaat dari Sirup asam jawa antara lain: • Dapat menghilangkan rasa dahaga, yaitu dapat dihidangkan dengan menambah air masak baik panas, hangat, maupun air dingin sesuai dengan selera yang kita inginkan • Memberikan kesegaran tubuh, yaitu dapat menyegarkan badan yang lelah atau letih sehabis kita bekerja berat , sehabis olah raga maupun bepergian. • Dapat menambah kesehatan tubuh karena banyak mengandung Vitamin C yang sangat dibutuhkan oleh kesehatan tubuh, dapat pula dijadikan sebagai obat sariawan akibat kekurangan vitamin C. CARA PEMBUATAN SIRUP ASAM JAWA Bahan-bahan dan alat-alatnya antara lain; Bahan-bahannya; Asam jawa 0.5 kg, gula pasir 3 kg, air masak secukupnya Alat-alatnya; Saringan, Wajan, panci, kompor, timbangan, saringan, pengaduk, botol sirup. Langkah kerja, 1. Pertama tama timbanglah asam jawa yang masak sebanyak 0,5 kg 2. Masukkan kedalam baskom dan tambahkan air bersih sebanyak 3 liter 3. Hancurkan dan remas-remas asam jawa hingga bijinya terkelupas dari daging buahnya. 4. Saringlah untuk memisahkan air asam jawa dengan biji benda lain yang tidak dipakai 5. Lakukan penyaringan hingga dua kali 6. Campurkanlah hasil penyaringan I dan II, tambahkan gula pasir 3 kg dan panaskan dengan kompor sambil diaduk -aduk agar larutam merata 7. Setelah mendidih angkatlahpanci dari kompor dan dinginkan. 8. Masukkan sirup asam yang sudah jadi kedalam botol sirup yang telah dipersiapkan dan simpanlah pada suhu kamar 9. Hidangkanlah sirup asam jawa yang sudah jadi tersebut dengan menambahkan air masak, bisa dihidangkan dalam minuman panas maupun dingin sesuai dengan selera kita. Adapun Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan sirup asam jawa adalah sebagai berikut: • Pilihlah asam jawa yang benar –benar masak, karena akan sangat mempengaruhi kualitas dari sirup yang akan dibuat • Penggunaaan api kompor janganlah terlalu besar atau terlalau panas sehingga larutan sirup yang diperoleh kualitasnya baik dan menarik • Dalam memanaskan larutan asam jawa harus selalu diaduk terus menerus hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penggumpalan dibagian bawah panci sehingga hasilnya baikdan memuaskan. Demikian teknik dan cara Pembuatan Sirup asam jawa secara sederhana semoga dapat bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkannya.(mnr)

2013-02-23

TEKNIK PEMBUATAN SELAI DARI BUAH-BUAHAN

Buah-buahan adalah merupakan hasil pertanian yang banyak dibudidayakan oleh petani baik didaerah pedesaan maupun perkotaan. Buah-buAhan ternyata sangat dibutuhkan dalam usaha pemeliharaan kesehatan tubuh kita khususnya untuk pemenuhan gizi yang berupa vitamin serta berfungsi sebagai bahan pengatur dalam proses metabolisme tubuh, mempertahankan fungsi dan mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan sel-sel baru. Pada umumnya buah-buhan buah-buahan melimpah jumlahnya pada saat musim panen atau pada saat musim tertentu, dikarenakan antara jenis buah yang satu dengan yang lainnya saat panennya tidak bersamaan, namun adakalanya ada tanaman buah yang yang berbuah tak mengenal musim sehingga sepanjang tahun serlalu menghasilkan buah. Untuk mengetahui adanya kerusakan atau kebusukan yang merupakan sifat dari buah-buhan, melalui tulisan ini kami perkenalkan Cara pembuatan selai dari buah-buahan secara sederhana. Selai adalah merupaskan produk yang diperoleh dari pulp buah-buahan atau buah-buahan yang telah dihancurkan dengan cara diparut atau diblender. Kemudian bahan tadi dimasak dengan ditambah gula pasir hingga mencapai kekentalan tertrentu. Untuk pembuatan selai buah biasanya dibutuhkan perbandingan antara 45 % bagi buah-buhan dan 55 % bagian gula. Buah yang digunakan: Buah buahan yang digunakan untuk pembuatan selai harus betul-betul buah yang telah masak agar diperoleh flavor atau aroma serta cita rasa dan warna yang baik, umumnya dapat digunakan dari bermacam-macam jenis buah-buahan seperti mangga,nanas, sirsak, durian, sawo, nangka, tomat, melon dan buah lainnya. Buah-buahan sebelumnya dikupas dan dicuci dahulu agar bersih dan selanjutnya baru dihancurkan dengan cara diparut atau diblender. Biasanya untuk menghancurkan buah-buahn yang agak padat dilakukan pemasakan terlebih dahulu dengan ditambah air sedikit mungkin. Gula yang diperlukan Banyaknya gula yang diperlukan untuk pembuatan selai ditentukan oleh jenis buah, tingkat kematangan buah serta keasaman dari buah itu sendiri. Umumnya digunakan perbandingan volume buah dengan air 1:1, tetapi dapat juga bervariasi sesuai dengan selera kita dan umumnya hanya berkisar 3:4 sampai dengan 5:4 Untuk buah yang rasanya manis atau tingkat keasamannya rendah tidak memerlukan gula sebanyak buah-buahan yang yang rasanya masam, sebaliknya pemakaian gula yang terlalu banyak akan menghasilkan selai yang kurang baik, karena rasa buahnya itu sendidri tidak meninjol dan kurang terasa. Bila kita akan membuat selai dari buah yang memiliki rasa netral seperti papaya atau jambu air sebaiknya perlu ditambahkan asam untuk menambah atau memperbaiki flavor atau aroma selai. Cara pengolahan Bahan-bahannya antara lain ; Buahan-buahan, Gula pasir, air bersih dan lainnya Alata -alatnya ; Pisau, panci, wajan, gelas, pengaduk, belnder/ parut, saringan, botol, kompor dan lainnya Cara Kerja; Buah-buahan yang telah masak dikupas dan dicuci terlebih dahulu sampai bersih, buah dipotong-potong agar mudah untuk dihancurkan dan buang;lah bagian buah yang tidak dibutuhkan. Selanjutnya buah yang telah dipotong-potong tadi dihancurkan dengan menggunakan blender atau diparut. Buah yang telah diblender masukkan kedalam panci dan tambahkan sedikit air , kemudian panaskan dengan kompor. Usahakan api kompor jangan terlalu kebesaran, setelah separoh dari air buahnya menguap, tambahkan gula pasir dengan perbandingan 1:1 atau 3:4 dan panaskan terus diatas kompor hingga adonan tadi mencapai kekentalan tertentu sesuai dengan keinginan kita, selanjutnya selai yang sudah matang tadi tuangkan kedalam toples atau botol khusus selai dalam keadaan masih panas dan tutuplah rapat-rapat. Setelah dingin selai dapat dikonsumsi sebagai pengisian roti atau campuran es krim dan dapat pula dikonsumsi langsung. Demikian sekilas teknik pembuatan selai dari buah-buahan semoga dapat barmanfaat bagi yang membutuhkannya.(m.syah)

2013-02-21

TANAMAN JAMBU METE TERNYATA COCOK UNTUK PENGHIJAUAN LAHAN MARGINAL

Tanaman Jambu mete ( Anacardium occidentale.L) termasuk genus Anacardium, anggota dari Famili Anacardinaceae, yang mempunyai variasi genus sekitar 60 dan variasi spesies hingga 400 spesies, dari berbagai spesies tersebut dapat digolongkan menjadi dua kelompok spesies besar yaitu Giganteum yang berpostur raksasa (Valerino,1992) Dengan adanya proses adaptasi dan persilangan diantara spesies membentuk ciri khusus pada warna dan bentuk buah semu yang digolongkan menjadi dua kelompok. Yaitu kelompok tanaman dengan ciri warna buah semu kuning atau merah dan bentuk buah yang membulat atau memanjang, sedangkan ciri lain adalah cita rasa kacang mete merupakan ciri yang khas menurut asal daerah yang meliputi perpaduan kerenyahan, warana, aroma dan rasa. Tanaman Jambu mete selalu tumbuh subur sepanjang tahun (evergreen). Pada golongan Giganteum dapat menjadi pohon dengan ketinggian mencapai 15 meter. Sebagai tanaman yang dikembangkan dilahan kawasan pantai, pada tanah marginal atau tanah yang kurang subur, tanaman ini mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan tanaman keras atau tanaman tahunan lainnya yang meliputi:  Mudah beradaptasi pada berbagai kondisi iklim  Mampu tumbuh pada tanah yang mengandung garam  Tidak menuntut pemeliharaan secara khusus  Biji dan buah semu dapat diolah menjadi komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan berprospek pasar yang baik.  Jambu mete telah dikenal secara luas oleh kalangan masyarakat Indonesia mulai dari teknik penanaman, pemeliharaan hingga panen dan pasca panennya. ADAPTASI IKLIM Terperatur. Tanaman jambu mete masih dapat tumbuh baik pada temperatur antara 70 – 400 Celcius, optimal pada suhu bulanan sekitar 270 Celcius dengan rata-rata harian berkisar anatara 250 C – 350 C. Pada daerah produsen jambu mete perbedaan suhu malam hari yang dingin sampai 15 0 Celcius dan siang hari yang panas hingga mencapai 350 Celcius pada musim kering, tanaman jambu mete justeru tumbuh dengan baik. Situasi temperatur ini hampir banyak dimiliki oleh keadaan daerah pantai pada umumnya. Kelembaban. Dari berbagai peneliti menyatakan bahawa, tanaman jambu mete hampir tidak terepengaruh oleh kelembaban nisbi yang berubah-ubah, sepanjang keadan air dalam tubuh tanaman cukup tersedia diantara butiran tanah. Tanaman ini masih mampu bertahan hingga kelembaba nisbi mencapai 10 %. Curah Hujan Banyak pendapat mengatakan bahwa tanaman jambu mete dapat tumbuh pada kisaran curah hujan antara 500 – 4.000 mm per tahun, hal tersebut ternyata bukan merupakan batasan yang penting. Sampai dengan saat ini belum ada data yang menunjukkan kebutuhan air yang diperlukan oleh tanaman jambu mete. Berbagai literature menunjukkan bahwa tanaman jambu mete sangat tahan terhadap kekeringan, sepanjang akarnya berada dalam lapisan tanah yang cukup dalam, karena akar tanaman jambu mete dapat menyerap air tanah yang tidak tersedia bagi tanaman lain . Curah hujan 1.000 - 2.000 mm per tahun dengan bulan kering 4-6 bulan , tanaman jambu mete ini masih dapat berkembang dengan baik. Tanah. Kemapuan adaptasi tanaman jambu mete pada berbagai jenis dan keadaan tanah belum tertandingi oleh tanaman keras atau tanaman tahunan lainnya. Pada tanah berkerikil dan berbatu sepanjang penetrasi akar dapat masuk lebih dalam, tanaman jambu mete ini masih dapat tumbuh dengan baik. Kondisi tanah dengan lapisan subsoil yang kompak kedalamannya kurang dari 1 meter, tanaman akan tumbuh dengan postur pendek dan dapat menghasilkan glondong mete sekitar 120 kg/ Ha. Dibeberapa tempat, tanaman jambu mete yang tumbuh sangat dekat dengan garis batas pantai dan ternyata masih dapat mentolerir kadar garam sekitar 3-3.5 ppm ( part per million), apabila kadar garam melebihi batas, tanaman jambu mete akan menjadi kerdil ( Rocchetti,1970). Pemeliharaan. Perawatan dan pemeliharaan tanaman jambu mete tidak banyak menuntut cara-cara yang khusus, melainkan dapat ditanam bersama –sama dengan tanaman lain. Baik dilahan maupun dipematang-pematang. Benih tanaman jambu mete dapat menggunakan benih unggul lokal setempat, karena mempunyai kemampuan adaptasi dengan lingkungan yang lebih cepat dibandingkan dengan benih dari daerah lain. Penanaman benih secara langsung dilapangan disinyaliur lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan dan tumbuh lebih kuat serta dapat bertahan lebih baik daripada tanaman tahunan lainnya pada saat musim kemarau. Pembentukan kerangka tanaman diperlukan pada saat tanaman jambu mete masih relatif muda yaitu pada umur tanaman kurang lebih 2 tahun. Pemupukan tidak harus menggunakan pupuk an organik, bahkan pada tanaman dewasa kemampuan menyerap unsur hara lebih tinggi dengan jangkauan yang lebih luas. Pengendalian hama dan penyakit umumnya relatif lebih ringan, dan yang perlu diwaspadai adalah adanya serangan hama helopeltis, yaitu pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara mengembangkan musuh alami berupa semut merah atau langrang. Dugaan tanaman jambu mete mengeluarkan zat semacam alellopati yaitu zat yang dapat meracuni tanaman lain disekitarnya ternyata tidak benar, diversifikasi tumpang sari dengan tanaman jagung pada tanaman jambu mete umur 3-4 tahun dapat menghasilkan jagung wose + 4 ton/hektar(Dirjenbun,1993) Hasil dan Nilai Ekonomis • Hasil utama dari tanaman jambu mete adalah biji mete yang sangat digemari oleh kalangan masyarakat, baik orang tua maupun anak muda, baik secara langsung maupun sebagai campuran makanan, sehingga merupakan produk exotic yang bernilai tinggi dengan pangsa pasar yang terus meningkat. • Kulit biji jambu mete (Shell)) mengandung minyak Cessshew nut shellliquid (CNSL) merupakan bahan penting untuk pembuatan minyak pelumas, bahan cat, bahan perekat, bahan pengawet kayu dan bambu serta bahan pestisida. Sisa padatan sangat baik untuk bahan papan (Hardboard) yang kedap suara. • Kulit ari cukup mengandung gizi yang potensial untuk campuran pakan ternak • Buah semu banyak mengandung vitamin sangat potensial untuk bahan minuman (wine) atau sari buah. Sedangkan bahan padatannya dapat digunakan sebagai campuran pakan ternak. Dengan memperhatikan potensi produk yang dihasilkan oleh tanaman jambu mete, prospek medatang apabila diusahakan secara komersial dapat memunculkan bermacam-macam industri seperti;  Industri cairan CNSL  Industri makanan ringan  Industri makanan dan minuman kaleng  Industri pakan ternak Kesimpulan; Memperhatikan aspek teknik budidaya , aspek sosial, aspek ekonomi dan aspek sumberdaya alam dan lingkungan hidup, tanaman jambu mete (Anacardium accidentale.L) merupakan alternative untuk pengembangan sektor perkebunan pada daerah pantai dan lahan marginal. Selanjutnya penulis berharap semoga tulisan ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan tanaman perkebunan sebagai penghijauan pada lahan kritis (marginal) atau lahan pantai yang sekarang ini masih belum banyak dimanfaatkan dan kategori lahan tidur.(m.syah)

2013-02-20

BUDIDAYA TANAMAN BUAH-BUAHAN DALAM POT

Tanaman buah-buahan dalam pot atau yang dikenal dengan istilah Tabulapot akhir-akhir ini mulai nge-trend dan semakin banyak digemari oleh kalangan masyarakat, terutama bagi mereka yang berdomisili didaerah perkotaan khususnya di komplek perumahan yang padat penduduknya serta kebanyakan dari mereka hanya memiliki lahan pekarangan yang relatif sempit, sehingga mereka tidak bisa menanam tanaman buah-buahan secara alamiah dilapangan sebagaimana petani pada umumnya. Tabulampot banyak digemari oleh kalangan masyarakat secara luas, karena tanaman tabulampot banyak memiliki kelebihan-kelebihan dari pada tanaman yang ditanam secara alamiah, diantaranya:  Tabulampot tidak banyak memerlukan tempat yang luas dan mudah dipindah-pindahkan letaknya sesuai dengan keinginan kita serta dapat menambah eistetika atau keindahan lingkungan.  Buah yang dihasilkan dari tanaman dalam pot, baik bentuk maupun ukurannya atau kuantitas maupun kualitasnya sama dengan buah yang ditanam dalam tanah pekarangan secara alamiah pada umumnya.  Tabulampot mudah dilakukan pengamatan secara kontinyu, baik dalam pemupukan, penyiraman maupun dalam pengendalian Hama dan penyakitnya.  Tabulampot mudah perawatannya serta terjaga keamanannya baik dari gangguan hewan maupun gangguan manusia.  Tabulampot teknik dan budidayanya relatif lebih mudah dan dapat ditanaman disepanjang tahun baik di musim penghujan maupun di musim kemarau.  Tabulampot dapat pula diperjual belikan dan harganya relative lebih tinggi dari pada tanaman cangkokan atau okulasi lainnya. TEKNIIK BUDIDAYA Syarat tumbuh. Didalam pembudidayaan Tabulampot walaupun kondisi media tumbuh, pemupukan, penyiraman , pemangkasan tajuk bisa diatur akan tetapi fakor klimatik, seperti tinggi tempat, kelembaban, sinar matahari harus diperhatikan sesuai dengan kondisi tanaman pada umumnya secara normal dan alamiah. Persiapan Pot dan Media tumbuh. Syarat yang harus diperhatikan dari pot yang akan digunakan antara lain; Pot tersebut beratnya cukup ringan , tidak mudah pecah, berbentuk normal dan serasi dengan jenis tanaman yang akan di budidayakan. Jangan memilih jenis pot yang memiliki bibir melebar kesamping serta bagian tengah atau bawahnya menyempit, karena hal ini akan mempengaruhi proses fisiologi dan metabolisme tanaman itu sendiri. Adapun bentuk mulut dari pot pada dasarnya hanya ada dua macam, yang pertama berbentuk bundar dan yang kedua berbentuk persegi. Pot tersebut harus memiliki lubang pada bagian bawahnya serta mempunyai kaki dengan ketinggian yang cukup . Hal ini dimaksudkan agar dapat mengalirkan air siraman atau air hujan yang berlebihan. Sementara kaki Pada Pot dimaksudkan sebagai tempat berpijak dari pada pot, sehingga dengan lantai ada jarak yang cukup dan diharapkan air yang berlebihan dapat dengan mudah mengalir kebawah. Media Tumbuh Pada umumnya perakaran tanaman yang tumbuh didalam pot ruang geraknya sangat terbatas, karena terhalang oleh dinding-dinding pot. Oleh karena itu media tumbuh dalam pot tersebut haruslah dijaga sedemikian rupa sehingga agar dapat memberikan unsur hara yang cukup bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Disamping itu itu juga kegemburan draenase dan aerasenya harus selalu diperhatikan. Adapun media tumbuh yang lazim dipergunakan terdiri dari tanah, humus, kompos, pupuk kandang, pasir, sekam atau serbuk gergaji. Aplikasinya pertama bagian paling bawah atau dasar pot diisi dengan sekam atau serbuk gergaji dicampur dengan pasir setinggi seper empat pot. Kemudian lapisan kedua diisi dengan pupuk kandang atau bokasi, lapisan ketiga diisi dengan tanah dengan ketinggian hingga mencapai setengah bagian tinggi dari pada pot. Untuk menghindari serangan rayap atau hama akar lainnya tambahkan insektisida furadan atau curater secukupnya. Selanjutnya untuk lapisan terakhir diisi dengan media tumbuh campuran antara serbuk gegaji atau sekam padi, pupuk kandang atau kompos dan tanah dengan perbandingan 1;2;2 sampai dengan ketinggian leher pot. Penanaman Setelah pot diisi dengan media tumbuh yang telah dibasahi dengan air sampai keadaannya menjadi lembab, selanjutnya siapkanlah bibit tanaman buah yang akan ditanam dan ukurlah ketinggian polibag dengan kedalaman lubang, sehingga ketinggian bisa lebih akurat dan serasi. Kemudian buanglah plastik polibag dengan menggunakan pisau yang tajam agar tidak merusak perakaran tanaman. Perawatan Setelah bibit ditanam dalam pot maka, perlu dilakukan penyiraman secara rutin, usahakan jumlah air siraman yang diberikan optimal. Dan perlu diingat bahwa penyiraman tidak cukup dilakukan hanya pada bagian tanahnya saja , akan tetapi harus dilakukan terhadap seluruh bagian tanaman termasuk cabang, ranting dan daun. Sehingga tanaman akan menjadi lebih segar. Adapun yang terpenting lagi adalah untuk menghilangkan debu-debu atau kotoran lain yang menutupi pori-pori atau stomata daun. Dengan demikian tanaman dapat melangsungkan proses respirasi maupun proses fotosintesis secara sempurna, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman itu sendiri. Adapun untuk keperluan penyiraman gunakanlah air yang jernih dan bersih, apabila anda menggunakan air ledeng atau PAM jika kandungan kaporitnya terlalu tinggi, maka airnya perlu diendapkan terlebih dahulu sehingga tidak meracuni tanaman. Pemupukan. Pemberian pupuk dapat dilakukan melalui akar maupun daun . Jenis pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk anorganik maupun pupuk organik . Pupuk anorganik seperti Urea, TSP, KCl atau pupuk majemuk seperti NPK. Cara aplikasinya, pupuk dilarutkan terlebih dahulu menggunakan air jernih, dimana untuk fase pertumbuhan vegetatif pemberian pupuk Nitrogen lebih banyak komposisisnya dari pada pupuk Phospat maupun pupuk Kalium yaitu dengan perbandingan 3:2:1. Sedangkan pada saat tanaman memasuki fase Genaratif pemberian pupuk komposisisnya kebalikannya yaitu dengan perbandingan 1:4:3. Adapun untuk pemberian pupuk organik dapat dilakukan dengan cara ditaburkan diatas tanah. Pada prinsipnya didalam pemberian pupuk pada tanaman Tabulampot tidak ada aturan yang baku, baik jenis, dosis maupun frekuensinya, dikarenakan setiap literatur menampilkan teknologi yang berbeda-beda. Hal ini tergantung dari Jenis tanaman, besar kecilnya tanaman, ukuran pot yang digunakan, komposisi media tumbuh, teknik dan cara pemupukan serta tujuan pemeliharaan itu sendiri. Teknik Merangsang Pembungaan Guna merangsang terjadinya pembungaan dapat dilakukan dengan menggunakan Zat Perangsang Tumbuh ( ZPT) yang mengandung bahan aktif Succinicacid, Maleic Hidrazy, dimana zat perangsang tumbuh dari kelompok ini dapat menghambat pertumbuhan memendekkan ruas dan merangsang pembungaan . Adapun stadia tanaman yang tepat untuk diberi ZPT adalah pada saat tidak terjadi pertumbuhan pucuk, atau daun pucuk sedang menuju ketuaan. Adapun cara penggunaan ZPT adalah dengan melarutkan bahan tersebut kedalam air dengan dosis yang telah ditentukan sesuai dengan petunjuk yang tertera pada label. Kemudian larutan tadi semprotkan pada tajuk tanaman hingga merata, atau perlakuannya boleh juga disiramkan pada permukaan tanah dibawah tajuk tanaman . Waktu pemberian yang tepat adalah pada saat tunas berhenti tumbuh dan daun-daun sudah berwarna hijau tua. Frekuensi pemberian cukup dua kali dalam satu periode bunga, yaitu pertama pada saat tunas berhenti tumbuh dan pemerian selajutnya selang waktunya berkisar 2-3 minggu setelah pemberian pertama. Demikian cara membudidayakan tanaman buah-buahan dalam pot. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya.(mnr)