Secangkir Kopi

Teman minum yang sangat nikmat yang dapat dihasilkan dari biji kopi dari perkebunan

Chocolate Cake

Buah ceri merah hasil dari kebun mempercantik cake

Pancake

Strawberry manis dari kebun.

Olahan Kentang

Hasil hasil dari pertanian diolah menjadi makanan yang menggugah selera

Secangkir Teh

Teman setia untuk menentramkan jiwa

Showing posts with label JAMUR. Show all posts
Showing posts with label JAMUR. Show all posts

2013-03-17

PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU PADA TANAMAN BAWANG MERAH

Bawang merah ( Alllium ascalonicum L) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat baik untuk konsumsi segar maupun konsumsi olahan sehingga luas pertanamannya semakin bertambah keseluruh wilayah nusantara bahkan sampai ke manca Negara. Dalam rangka peningkatan produksi bawang merah berbagai kendala dihadapi, salah satunya adalah gangguan oleh organisme penggangggu tanaman atau OPT, baik yang berupa serangga hama maupun jamur, bakteri dan nematoda. Organisme pengganggu tanaman utama yang sering menyerang tanaman bawang merah adalah ulat bawang (Spodfoptera exigua), Hama Trip (Trip sp). Layu fusarium, antraknose, trotol (bercak ungu alternaria) a. Hama ulat bawang (spodoptera spp) Gejala serangan ditandai dengan bercak putih transparan pada daun. Ulat berada didalam daun bawang merah. Cara pengendaliannya; • Pengumpulan telur dan ulat lalu dimusnahkan • Pemasangan perangkap kupu untuk kupu /ngengat dengan feromonoid seks ulat bawang atau dengan lampu perangkap sebanyak 40 buah per hektar • Penggunaan agensi hayati seperti Jamur Beauferia, Nemathoda steinernema sp • Apabila intensitas kerusakan daun lebih besar atau sama dengan 5 % per rumpun atau telah ditemukan 1 paket telur per 10 tanaman, maka perlu dilakukan penyemprotan dengan insektisida efektif misalnya Hostathion 40 EC, Cascade 50 EC, Atabron 50 EC atau Florbac. b. Hama Trip (Trips sp) Gejala serangan ditandai dengan adanya bercak putih ber alur pada daun Cara pengendaliannya dengan penyemprotan insektisida efektif, misalnya Mesurol 50 WP atau Pegasus 500 EC c. Penyakit layu Fusarium (moler) ditandai dengan daun bawang merah menguning, daun terpelintir dan pangkal batang membusuk. Jika ditemukan gejala demikian tanaman harus dicabut dan dimusnahkan. d. Penyakit otomatis atau antraknose Gejala serangan, bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan pada bercak tersebut yang menyebabkan daun patah atau terkulai. Untuk mengatasinya semprot dengan fusingisida Daconil 70 WP atau Antracol 70 WP e. Penyakit Trotol (Bercak ungu alternaria). Gejala serangan ditandai dengan bercak putih pada daun dengan titik pusat berwarna ungu. Gunakan fungisida efektif antara lain Antracol 70 Wp, Daconil 70 WP dan lainnya. Dalam mencegah atau memberikan perlindungan tanaman bawang merah sebelum ditanam sebaiknya lahan disemprot dengan jamur/bakteri antagonis( Glioc ladium, Trichodrma, Psudomonas flaurescens). Untuk menekan perkembangan pathogen seperti fusarium, Phytium dan lainnya Demikian teknik pengendalian organisme pengganggu tumbuhan pada tanaman bawang merah semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya. (mnr)

2013-03-14

FAKTOR - FAKTOR YANG DAPAT MENYEBABKAN TIMBULNYA PENYAKIT PADA TANAMAN

Penyakit pada tanaman adalah disebabkan oleh adanya gangguan organisme yang bersifat parasit , seperti cendawan, bakteri, virus dan tanaman tingkat tinggi. Adapun penyakit itu dapat menular melalui air, angin, pelukaan oleh alat pertanian dan lain-lain. Timbulnya suatu penyakit pada jenis tanaman disebabkan oleh adanya interaksi antara tumbuhan yang terserang pathogen, dan ini dipengaruhi oleh beberapa factor. Dan kondisi setiap factor akan menentukan tingkat kerusakan tanaman pada musim tertentu. Penyakit sporadic merupakan penyakit epifipotik yang tidak selalu terjadi setiap musim dan dengan interval yang tidak teratur. Adapuin penyakit endemic menggambarkan suatu penyakit yang terbatas pada wilayah geografis tertentu, atau penyakit yang selalu terdapat di daerah tertentu dengan menimbulkan kerusakan ringan sampai berat. Adapun factor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan dan penyebaran penyakit antara lain sebagai berikut: 1. Faktor Iklim. Unsur iklim yang berpengaruh besar terhadap perkembangan penyebaran penyakit adalah sebagai berikut;  Suhu. Untuk berkembang dengan pesat, setiap pathogen menghendaki suhu tertentu, bila suhu lebih tinggi atau elbih rendah dari pada kisaran suhu tersebut, perkembangan dan peenyebaran pathogen akan terhambat, bahkan patogern akan amati.  Kelembaban. Hampir sebagian besar penyebab penyakit tanaman terutama golongan cendawan akan berkembang dengan pesat pada kelambaban tinggi, misalnya phitopthora palmifora. Phitopthora infestan dan Fusarium oxyforum Pada suhu, kelembaban, dan tanaman inang yang cocok, spora akan segera tumbuh mementuk miselium.  Cahaya. Faktor cahaya yang paling utama adalah sinar matahari memiliki hubungan erat dengan suhu dan kelembaban. Akibat cahaya matahari terik, suhu lingkungan tempat tanaman tumbuh akan naik. Bila pada lingkungan tersebut terdapat banyak air, maka akan terjadi penguapan sehingga lingkungan menjadi lembab. Kondisi seperti ini amat disenangi oleh pathogen untuk melakukan aktivitas hidupnya, termasuk berkembang biak.  Angin. Angin besar pengaruhnya terhadap penyebaran pathogen. Tubuh pathogen amat ringan sehingga bila ada angin sedikit saja akan mudah lepas dan terbawa terbang. Semakin angin kencang bertiup, penyebaran pathogen akan semakin jauh dan dalam waktu relative singkat penyakit akan cepat meluas.  Curah hujan. Curah hujan tinggi amat membantu perkembangan cendawan dan bakteri. Air hujan yang jatuh kepermukaan tanaman ada yang meresap kedalam jaringan melalaui lubang alami Stomata dan lentisel. Pada saat yang bersamaan, pathogen bisa turut masuk, kemuadian berkembang biak didalam tubuh tanaman dan akhirnya menimbulkan gejala penyakit. Tumbukkan air hujan kepermukaan tanah akan menimbulkan cipartan. Cipratan pathogen yang ada pada tanah ikut terlempa , lalu menempel pada bagian yang lunak. terutama tanaman muda atau tanaman semusim kemudian memparasit tanaman tersebut. 2. Tanah. Sifat tanah dapat memperngaruhi perkembangan dan penyebaran penyakit tanaman misalnya.  pH tanah Tanah yang mempunyai pH rendah disukai oleh sebagaian besar cendawan. Pada tanah masam, cendawan berkembang pesat dan banyak menimbulkan kerugian.  Struktur Tanah. Pada struktur tanah pejal, akar tanaman menjadi lemah karena aerasi dan draenasenya jelak serta tanah memadat. Misalnya Phyitopthora infestan amat menyukai kondisi tanah seprti inI, mudah menginfeksi dan memparasit tanaman.  Kelembaban tanah Tanah yang lembab dapat mempermudah pathogen menginveksi bagian tanaman di dalam tanah, Misalnya Phytopthora palmifora menyenangi tanah yang mengandung bahan organic tinggi dan draenase jelek. Demikian pula Fusarium oxysporum menyenangi tanah berdraenase jelek. 3. Tanaman inang. Berbagai jenis tumbuhan di alam merupakan tanaman inang bagi pathogen tertentu. Ada pathogen yang hanya memiliki beberaspa tanaman inang, ada pula pathogen yang menyukai banyak tanaman. Semakin banyak tanaman yang bisa dijadikan inang, semakin leluasa pathogen bertahan, menyebar dan berkembang biak. Dari sifatnya ada tanaman yang tahan terhadap gangguan pathogen, ada pula yang peka atau rentan. Pada umumnya tanaman yang rentan perkembangan penyakit akan lebih pesat. 4. Faktor Mekanis Faktor mekanis yang berpengaruhi terhadap perkembangan dan penyebaran penyakit tanaman adalah : a. Teknik bercocock tanam. Teknik bercocok tanam yang baik akan mampu menghambat perkembangan penyakit tanaman. Pengolahan tanah dan pembuatan parit yang baik dan teratur akan menyebabkan struktur, aerase dan draenase tanah manjadi baik.sehingga tidak disenangi oleh pathogen. b. Sanitasi. Tumbuhan pengganggu dan bagian tanaman yang ada pada lahan usaha tani bisa dijadikan inang dan media berkembang biak penyakit, dengan sanitasi yang baik berarti tidak memberi kesempatan kepada pathogen untuk memanfaatkan lingkungan tersebut. c. Irigasi. Pembuatan saluran irigasi yang kurang baik. Pemberian air yang tidak teratur akan menimbulkan genangan air dan kelembaban lingkungan yang tinggi, Kondisi seperti ini amat disukai oleh banyak pathogen, selain itu irigasi yang telah tercemar pathogen akan menjadi penyebab meluasnya serangan penyakit tanaman. MEDIUM PENYEBARAN PENYAKIT TANAMN. Umumnya pathogen menetap pada tumbuhan inang yang diserapnya, kemudian dapat berpindah atau menyebar ketanaman atau tempat lain dengan bantuan medium penyebaran. Mediaum penyebaran yang dapat dimanfaatkan pathogen antara lain. 1. Air. Spora cendawan atau koloni bakteri berukuran amat kecil sehingga bila jatuh atau tersapu oleh aliran air akan mudah hanyut terbawa ketempat lain. Proses penyebaran ini akan lebih cepat bila air yang tercemar pathogen tersebut digunakan untuk mengairi tanaman inangnya. 2. Angin. Tiupan angin mempengaruhi cepat atau lambatnya penyebaran penyakit. Tubuh pathogen umumnya amat kecil dan ringan, sehingga mudah tertiup angin. Kemudian menyebar ketempat lain. 3. Serangga. Virus tumbuhan umunyaa tidak keluar dari tubuh tanaman inang. Penyebaran varus dari satu tanaman ke tanaman lain dibantu melalui perantara serangga atau binatang lain (vector) yang menginfeksi atau memakan tanaman sakit. Disamping itu vector dapat menyebarkan cendawan dan bakteri dari tanaman sakit ketanaman lain. 4. Manusia. Dalam kegiatan pertanian manusia selalu berperan sebagai pengelaola tanaman budidaya, termasuk melakukan pemeliharaan tanaman, seperti menyiram, menyiang, memangkas. Pada saat melakukan pemeliharaan tanaman, pathogen dapat menempel pada tubuh, pakaian, atau alat-alat pertanian. Oleh karena itu manusia dalam kegiatan pertanian dapat berperan sebagai medium penyebaran penyakit tanaman. Demikian beberapa faktor yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada tanaman, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkanya, sehingga dalam teknik budidaya tanamnnya dapat berhasil dengan baik. (mnr)

2013-02-21

TEKNIK BUDIDAYA JAMUR MERANG

Jamur merang (Volvariella volvaceae), sangat dikenal dan diminati orang dibandingkan jamur lainnya. Keunggulan lainnya adalah, disamping pertumbuhan dan panennya cepat, jamur merang ini dapat diusahakan dalam skala kecil dengan sistim bedengan maupun skala besar, dengan sistim kubung. Untuk membudidayakan jamur ini dalam usaha manapun pada prinsipnya sama, yaitu mempunyai banyak hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. Pertama yang harus dipersiapkan adalah pengetahuan tentang pengenalan dan perilaku dari jamur itu sendiri, sehingga petani dapat mengetahui tahapan pertumbuhan jamur dan persyaratan tumbuhnya. Kemudian yang kedua ketersediaan lahan,tenaga kerja dan tentu saja modal. Produksinya, merupakan komoditi yang mempunyai prospek untuk dikembangkan baik untuk memenuhi permintaan dalam negeri maupun luar negeri. Permintaan pasar akan jamur merang khususnya Daerah Khusus Ibukota Jakarta sangat tinggi hingga mencapai 150 ton perhari. Pada musim kemarau pasokan jamur merang dari petani biasanya mengalami penurunan hingga 20 ton/hari, sehingga harga jamur merang melonjak tinggi, Jenis jamur yang paling banyak dibutuhkan untuk memenuhi permintaan rumah makan china adalah jamur merang, jamur ini dapat dikonsumsi sebagai campuran masakan misalnya bakso, sup dan masakan lainnya. Kegunaan lain adalah dalam upaya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, karena mengandung protein, karbohidrat dan vitamin B. Berikut akan dikemukakan suatu petunjuk suatu teknologi mpembuatan jamur merang secara praktis dengan system bedengan dalam skala kecil. PEMILIHAN LOKASI Jamur merang tidak memerlukan cahaya matahari yang terlampau banyak. Pada tempat yang teduh atau dibawah pohon yang rindang dan dibawah tanaman yang merambat sangat baik untuk membuat bedengan. Apabila tempat sudah dipilih, bedengan dibuat dengan arah memanjang dari Timur ke Barat. Jamur tidak menyukai tempat yang tergenang air atau tempat yang terlalau kering. Untuk mengindari genangan air dapat diatasi dengan meninggikan tanah alas bedengan. Sedangkan untuk menghindari kekeringan, dibuat saluran air pada sekeliling bedengan. Badengan harus dibuat kokoh agar tidak mudah roboh. Alas bedengan dibuat dari gundukan tanah, sedangkan pada tanah yang berpasir atau tanah lempung dianjurkan untuk menggunakan alas dari kayu, bambu dan bata. BAHAN BEDENGAN Bahan yang biasa digunakan untuk membuat bedengan adalah jerami padi yang sudah kering, Selain itu daun pisang yang sudah kering juga dapat dipakai. Buatlah ikatan jerami/ daun pisang dengan garis tengah 10 cm atau setengah jengkal. Sebagai tali pengikat dapat digunakan serat pelepah pisang. Potong jerami/ daun pisang yang sudah diikat dengan ukuran panjang 40 cm atau 2 jengkal. Untuk satu bedengan dengan ukuran lebar 60 cm dan panjang 160 cm, terdiri dari 6 lapisan yang memerlukan sekitar 90 ikat jerami/ daun pisang. Bila musim kemarau lapisan bedengan dibuat sebanyak 4 atau 5 sedangkan pada musim penghujan harus lebih banyak. Rendamlah ikatan jerami/ daun pisang yang sudah dipotong tadi kedalam air yang bersih, dan sebaiknya pada air yang mengalir. Perendaman dilakukan selama satu malam.Selanjutnya jerami diangkat dari rendaman, dan tiriskan beberapa saat. CARA MEMBUAT BEDENGAN Bedengan yang telah terbentuk sesuai ukuran tadi dilengkapi dengan parit selebar 20 cm, kedalaman parit 15 cm. Jadi untuk satu bedengan hanya memerlukan lahan 2x1 meter. Sediakan dua potong kayu atau bambu, selanjutnya tancapkan masing-masing ditengah dari tepi kedua bagian lebar alas bedenga tadi. Hal ini dimaksudkan agar jerami/ daun pisang yang disusun tidak roboh CARA MENANAM BIBIT. Penanaman bibit dilakukan setelah lapisan bedengan tersusun rapih, dengan jarak 1/2 jengkal ( 10 cm). Caranya bibit diselipkan atau dimasukkan diujung bedenga. Kerangkan penutup bedengan terbuat dari bambu setinggi satu meter. Setelah kerangkan jadi, tutuplah dengan plastik. Penutupan ini dimaksudkan agar suhu dan kelembaban bedengan dapat terjaga. Penutup hanya boleh dibuka setelah bibit jamur yang ditanam telah berumur 5 hari. PEMELIHARAAN. Penambahan air kedalam saluran air disekeliling bedengan sangat dianjurkan untuk menjaga kelembaban dan untuk mencegah bedengan dari gengguan semut/rayap. Penyiraman dengan air sari beras atau sari buncis setelah 5 hari dimusim kemarau harus dilakukan secara perlahan-lahan. Hal ini dimaksudkan agar benang-benang miselium jamur yang sedang tumbuh tidak rusak karena penyiraman. Sedangkan pada musim penghujan, penyiraman tidak dianjurkan. CARA PEMANENAN Pertumbuhan jamur merang dimulai dari ukuran jarum pentul, kancing, telur dan payung. Jamur merang yang dipanen pada ukuran telur, dalam pemanenan tidak menggunakan gunting/ pisau, karena alat tersebut dapat mengakibatkan pembusukan pada jamur. Cara panen yang baik, hendaknya dilakukan dengan tangan. Caranya batang/ pangkal jamur diputar perlahan-lahan sampai jamur terlepas dari bedengan. Jamur yang sudah dipetik sebaiknya diangin-anginkan diatas tempat terbuka agar supaya tidak lekas rusak. PEMASARAN PRODUKSI. Apabila produksi sudah mencukupi kebutuhan konsumsi, sebagian produknya dapat dijual dipasar-pasar lokal, biasanya laku dengan harga yang cukup tinggi. Untuk memperluas pemasaran hasil produksi. Para petani jamur dapat pula bekerja sama dengan koperasi- koperasi setempat. Semakin tinggi pengetahuan dan keterampilan petani dalam membudidayakan jamur merang, maka semakin tinggi pula hasil yang akan diperoleh. Demikian Teknik Pembuatan jamur merang semoga tulisan ini dapat membantu masyarakat pada umumnya dan khususnya para petani yang ingin membudidayakan jamur merang.( M.Syah)